Bagaimana Mengajak Anak Belajar Toleran?

 

 

 

 

Salah seorang saudara Anda ternyata suka melontarkan sesuatu hal yang bersifat rasis. Anda kemudian khawatir anak Anda melihatnya karena pada dasarnya anak adalah peniru ulung dan bahkan ia memang mirip spons. Ia bisa saja menyerap dan mengulangi kata-kata yang bisa menyinggung perasaan tersebut. Jadi, bunda memang harus menjelaskan mengenai rasialisme kepada anak.

Jadi, bagaimana caranya mengatasi anak yang telah melihat dan bahkan mencontoh orang dewasa yang rasis? Bagaimana cara Anda menjelaskan kepada anak mengenai hal itu? Berikut merupakan saran-saran dari psikologis, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi.Psi.

 

Perbedaan Itu Bukanlah Masalah

Satu hal yang perlu ditanamkan pada anak adalah ia perlu tahu bahwa menjadi berbeda itu bukanlah masalah. Ingat, toleransi akan diuji ketika kita menemui sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di diri kita. Apa itu toleransi? Kata ‘toleransi’, menurut UNESCO, merujuk pada sikap terbuka dan menghormati perbedaan yang ada di antara manusia.

Mengapa kita perlu menumbuhkan toleransi pada anak-anak ? Ini karena ras, agama, suku bangsa, gender, usia, budaya, politik, sosial ekonomi, tempat tinggal, pakaian, bahkan makanan bisa memicu antipati dari orang-orang yang intoleran, orang-orang yang takut pada mereka yang tampak berbeda atau hidup dengan cara berbeda.

Dengan demikian, untuk menanamkan sikap toleransi pada anak, ia perlu diajarkan bahwa setiap orang dapat memiliki cirinya masing-masing. Saat anak melihat ada temannya yang berambut keriting, bermata sipit, atau berkulit gelap, beri tahukan bahwa mereka berbeda namun sebenarnya mereka asyik juga diajak bermain. Hal ini akan memberikan anak-anak kesempatan langsung untuk bermain dan belajar bersama teman-teman yang beragam. Mereka akan melihat bahwa setiap orang memberi kontribusi yang berarti, serta mengalami sendiri persamaan dan perbedaan di antara mereka.

 

Jangan Anti-SARA di Depan Anak

Orang tua dapat mengajarkan toleransi melalui banyak hal, namun yang terutama adalah menjadi teladan. “Anak akan melihat bagaimana kita memperlakukan tetangga kita yang berbeda keyakinan. Atau, anak juga akan belajar ketika orang tuanya memiliki teman yang berbeda-beda,” ujar Vera

Bunda, berhati-hatilah di hadapan anak. Hal ini berarti juga perlunya mengatakan pada saudara Anda yang suka melontarkan sesuatu hal yang bersifat rasis, bahwa Anda tidak akan pernah menoleransi kata-kata rasialnya.

 

Be Nice to Everybody

Jangan bosan-bosan untuk mengingatkan anak bahwa ia harus menghargai atau menghormati semua orang yang ditemuinya tanpa memandang perbedaan SARA. “Pokoknya, be nice to everybody,” pesan Vera.

 

Filter Tayangan Berita

Saat anak melihat berita atau tayangan yang mengandung unsur SARA atau kebencian terhadap kelompok tertentu, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Diskusikan dengan tindakan apa yang sebenarnya lebih bijak dilakukan dari apa yang dilihatnya di layar televisi. “Bila perlu, hindarkan anak menonton tayangan atau berita sejenis itu,” pesan Vera.

Perlu juga orang tua mendiskusikan keragaman dan pentingnya menghargai sesama sehingga anak-anak jadi paham tentang nilai toleransi yang orang tua ingin tumbuhkan.

Tidak perlu berlama-lama menyesalkan perpecahan dan kekerasan yang marak terjadi di mana-mana. Ada misi yang lebih penting untuk dikerjakan mulai sekarang, yakni menanam bibit-bibit perdamaian pada generasi penerus.

Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.”—Albert Einstein

 

Source: Adapted from Make Peace Article by Laili Damayanti in Parenting Magazine; http://www.parenting.co.id/usia-sekolah/mengapa-perlu-tumbuhkan-toleransi-pada-anak-

 

Artikel ini dimasukkan pada .